Searching...
Selasa, 04 Januari 2011

Refleksi Akhir Tahun Seorang Jundi

Refleksi Akhir Tahun Seorang Jundi
Iman adalah mata yg terbuka
Mendahului datangnya cahaya
Tetapi jika terlalu silau,pejamkan saja
Lalu rasakan hangatnya keajaiban
-Sallim-

Banyak peritiwa yg kita jumpai dalam kehidupan, banyak problem yg kita hadapi dalam hidup. Menyaksikan itu semua kadang kita terhenyak diliputi banyak pertanyaan yg sulit kita dapatkan jawabannya. Itulah keterbatasan yg harus kita akui namun bila keimanan yg berkilauan itu terlalu silau pejamkan saja lalu rasakan kehangatan keajaibannya. Di malam akhir tahun ini aku pun menerawang kembali kemasa lalu, aku ingat betul di awal-awal aku bergabung di gerbong dakwah KAMMI pada saat itu aku memiliki dua orang sahabat karib yg menadapat amanah yg sama di depertemen kaderisasi kami bertiga begitu solidnya khususnya aku dan Nawawi yg berlatar belakang ADS dari bogor bahkan ia lebih tua tiga tahun dariku. Namun jalan dakwah memiliki tabi’atnya sendiri sebagaimana FirmanNya ”Ahasibannasu ayyutroku ayyaqulu amannabilahi wahum la yuftanun” (Apakah manusia akan dibiarkan begitu saja berkata Aku beriman pada Allah sedang ia tidak di uji atas perkataanya.) Ujian itu pun silih berganti menguji keimanan kami bertiga, yg pertama adalah saudaraku Akh Walan ADS dari Sukabumi fakulta Syari’ah ia gagal pada ujian yg di berikan Allah iapun meminta cuti dari dakwah karena seorang akhwat, berbeda lagi dengan Nawawi ADS dari bogor ia pundung fi toriqidda’awah karena sakit hati dan dendam pada pengurus senior diakibatkan senior tersebut tak mampu menjaga lisannya. Lidah memang lebih tajam dan menyakitkan dari belati dan sembilu. Aku pun menaehatinya sembari kami menyantap makanan di warung dekat sekre di gang kujang.
“Akhi..Kelak suatu hari nanti antum akan menyesal dan akan menghubungi ana lagi...” Dan Subhanallah Tepat di awal 2010 ada sebuah sms yg masuk ke HP ku…
“Ki..bagaimana kabarnya.? aku minta tausiyahnya dong ki, kapan bisa ketemu di kampus..?”_Nawawi… Hmm akhirnya terbukti juga perkataanku... itulah penyesalan selalu datang belakangan.
Ketika kubaca firman-Nya “Sungguh tiap mukmin bersaudara.” Aku merasa kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan. Tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman. Aku ingat betul perjumpaanku dengan seorang ikhwah di Pangalengann dalam hitungan detik, hitungan detik saja aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan ,itulah ruh-ruh kami yg saling bersapa, berpeluk mesra dengan iman yg menyala, kami telah mufakat meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat. Hingga hari ini rumahnya selalu menjadi tempat pertama yg ku kunjungi di saat libur dari aktivitas di kampus, kehangatan sambutan keluarganya membuatku merasa mereka adalah keluargaku sendiri. Ya ruh kami satu, hanya saja ia sedang hinggap di jasad yg lain. Kubaca lagi firmanNya ”Sungguh tiap mukmin bersaudara” Aku makin tahu, persaudaraan tak perlu lagi di risaukan. karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan terasa siksaan, saat kebersamaan terasa melukai aku tahu bahwa yang rombeng hanyalah iman-iman kita, ia sedang sakit atau mengerdil bahkan compang-camping..Astagfirullah..
Rentang perjalanan bersama gerbong Da’wah ini telah menginspirasi banyak hal. Inspirasi yg sebenarnya cukup untuk menjadi modal awal perbekalan selanjutnya. Inspirasi yang lahir dari beragam keadaan dan beragam kondisi, inspirasi yg muncul dari sebuah kesenangan yg ternyata hanya sementara, inspirasi yang tertanam dari kesulitan, inpirasi yang datang dari kesenangan juga kebahagiaan. Semuanya adalah bagian dari kehidupan yg harus dimaknai dengan satu kata ”Tarbiyah” (belajar). Belajar untuk mengubah diri, berlapang dada, ya.. belajar sepanjang hidup dari kehidupan ini, belajar dari lingkungan dan respon kehidupan.
Kita masih berbicara tentang iman, dengan akarnya yang teguh kita memeluk keyakinan, hujamanannya yang dalam menjadi pengokoh pijakan. Sehingga takan terusik dilanda badai dan tak luruh dipukul angin ribut. Itulah iman, ia bukanlah bongkahan batu karang yg tegak kokoh, dia hidup bagai cabang menjulang dan dedaunan rimbun selalu tumbuh, dan menuntut akarnya menggali kian dalam, merindukan cahaya mentari dan embun serta udara pagi. Maka amal-amal soleh dan kerja-kerja ketaatan dan perilaku kebajikan. Sayyid Qutub berkata dalam Fi Zilalnya; “Adalah batang yg tumbuh tegak secara alami dari keimanan yg telah berakar dari dalam jiwa. Ia adalah gerak di mana hakikat keimanan itu telah menghujam di dalam hati. Maka keimanan pada hakikatnya adalah sebuah energi apabila ia telah terhujam pada jiwa dan nurani maka ia akan terekspresikan dalam bentuk amal soleh.”
“Amal-amal soleh itulah yg akan membuat kita menjulang menggapai cakrawala yg luas dan mampu memberikan naungan dengan rerimbunan dedaunan amal soleh dan buah keta’ataan pada-Nya. Dalam dekapan iman dan da’wah kita mengambil cinta-Nya di langit lalu menebarkannya di bumi. Mari dari menara-menara keimanan yg menjulang kita tebarkan hidayahnya. Jadilah ia sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji. Keep Hamasah and Istiqomah saudaraku... Akhukum
Cibiru 1 Januari pukul 12:42 2011
Mumammad.Mulki.Ibrahim al faruq

0 comments:

Poskan Komentar

 
Back to top!